DAERAH  

Peternak Telur Bulukumba Tertekan, Syahruni Haris Minta Pemerintah Tetapkan HPP

Avatar photo
Syahruni Haris, pengurus HNSI Sulsel. (Ist)

BACABAIK.com – Wakil Ketua DPRD Bulukumba yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bulukumba, Syahruni Haris, mendorong pemerintah menetapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk menjaga harga telur ayam di tingkat peternak.

Dorongan tersebut disampaikan Syahruni menyikapi keluhan sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Bulukumba yang menghadapi penurunan harga telur di tengah meningkatnya biaya produksi.

Menurut Syahruni, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang memberikan kepastian harga bagi peternak, sebagaimana kebijakan yang telah diterapkan terhadap sejumlah komoditas pertanian seperti gabah dan jagung.

“Harus ada kebijakan dari kementerian untuk menetapkan harga eceran tertinggi seperti gabah dan jagung,” kata Syahruni yang juga Ketua DPC Gerindra Bulukumba.

Ia menilai kebijakan tersebut penting untuk mencegah harga telur jatuh terlalu rendah ketika terjadi kelebihan produksi di pasaran. Dengan adanya kepastian harga, peternak diharapkan tetap dapat menjalankan usaha secara berkelanjutan.

Sementara itu, UPT Peternakan Bulukumba, Surya Darma, menyampaikan bahwa pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur.

Salah satunya dengan mengimbau gabungan perusahaan pakan ternak agar tidak menaikkan harga pakan ayam petelur hingga harga telur kembali berada pada standar yang ditetapkan pemerintah.

“Dirjen Peternakan dan Keswan mengimbau kepada gabungan pabrik pakan ternak untuk tidak menaikkan harga pakan petelur sampai harga ayam petelur sesuai harga standar yang ditetapkan Rp24.000 per kilogram,” jelas Surya.

Menurutnya, standar harga telur yang ditetapkan pemerintah berada di angka Rp24.000 per kilogram. Jika dikonversi dengan harga yang umum digunakan di Sulawesi Selatan, nilai tersebut setara sekitar Rp48.000 per rak.

“Standar harga Rp24.000 per kilogram telur setara dengan Rp48.000 per rak. Di daerah Jawa pakai harga per kilogram, tetapi Sulsel pakai harga per rak,” ujarnya.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak Bulukumba masih berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp42.000 per rak atau sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Harga tersebut masih berada di bawah standar yang disebutkan pemerintah.

Sebelumnya, peternak ayam petelur di Bulukumba mengeluhkan anjloknya harga telur di tingkat peternak. Kondisi tersebut semakin berat karena biaya produksi ikut meningkat akibat kenaikan harga pakan.

Salah seorang peternak ayam petelur, Ilham Ashari, mengatakan harga telur saat ini hanya berkisar Rp39.000 hingga Rp40.000 per rak. Angka tersebut turun dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp45.000 hingga Rp50.000 per rak.

Selain penurunan harga, produksi telur peternak juga disebut belum seluruhnya terserap pasar.

“Telur saat ini di Bulukumba surplus,” kata Ilham.

Di sisi lain, biaya produksi meningkat seiring kenaikan harga pakan ayam. Saat ini, harga pakan jadi mencapai sekitar Rp380.000 per karung ukuran 50 kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp350.000.

Ilham mengungkapkan, populasi ayam petelur di kandangnya mencapai sekitar 2.200 ekor dengan kebutuhan pakan sekitar 254 kilogram setiap hari.

“Kalau di kandang saya, populasi 2.200 ekor, kebutuhan pakannya itu 254 kilogram per hari,” ujarnya.

Menurut Ilham, kondisi tersebut membuat peternak semakin tertekan karena harga jual telur tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membantu peternak ayam petelur, baik melalui kebijakan yang dapat menjaga harga telur maupun upaya menekan biaya pakan.

“Saran saya, perlunya pemerintah hadir dan memberikan kebijakan yang berpihak kepada peternak ayam petelur di Kabupaten Bulukumba atau menekan harga pakan,” pungkasnya. (Mad)

banner 120x600